Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlangsung sejak 2018 telah menjadi salah satu isu terbesar dalam perekonomian global. Kini, dengan adanya kesepakatan dagang tahap pertama yang ditandatangani di Washington, dampak perang dagang ini mulai dirasakan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Kalimantan Barat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebutkan bahwa kesepakatan antara AS dan Tiongkok akan memberikan angin segar bagi perdagangan global. Namun, dampaknya juga terasa langsung di Indonesia, khususnya di sektor ekspor dan impor. Pada tahun 2019, ekspor Indonesia turun 6,94% menjadi US$ 167,53 miliar, sementara impor turun 9,53% menjadi US$ 170,72 miliar. Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$ 3,19 miliar, meski angka ini lebih baik dibandingkan 2018 yang mencapai US$ 8,7 miliar.
Dampak Perang Dagang pada Ekspor dan Impor Indonesia

Perang dagang antara AS dan Tiongkok memicu ketidakpastian dalam rantai pasok global. Hal ini secara langsung memengaruhi kinerja ekspor dan impor Indonesia. Meskipun surplus neraca dagang nonmigas dengan AS meningkat dari US$ 8,56 miliar pada 2018 menjadi US$ 9,58 miliar pada 2019, defisit dengan Tiongkok tetap menjadi tantangan besar. Impor nonmigas ke Tiongkok mencapai US$ 44,57 miliar, sedangkan ekspor hanya US$ 25,85 miliar.
Peningkatan impor dari Tiongkok terutama terjadi pada komoditas seperti sayuran, yang mengalami pertumbuhan 11,67%. Sementara itu, ekspor Indonesia ke AS mengalami peningkatan signifikan, terutama pada produk kulit samak yang naik 69,99%.
Pengaruh pada Rupiah dan Stabilitas Ekonomi

Meski ada ketidakpastian, stabilisasi nilai tukar rupiah terlihat sebagai efek positif dari penurunan tensi perang dagang. Dalam dua pekan pertama tahun 2025, rupiah menguat 1,23%. Ini menunjukkan bahwa investor mulai percaya pada stabilitas ekonomi Indonesia.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai bahwa Indonesia bisa memanfaatkan situasi ini untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global. “Dengan berkurangnya tekanan harga dari gangguan pasokan dan melonjaknya biaya produksi akibat tarif, dunia usaha Indonesia berpotensi mendapatkan akses yang lebih kompetitif ke pasar global,” ujarnya.
Kalimantan Barat: Wilayah yang Terdampak Langsung

Kalimantan Barat, yang merupakan provinsi dengan potensi ekonomi tinggi di Indonesia, juga merasakan dampak perang dagang. Sebagian besar ekspor daerah ini berasal dari sektor pertanian dan perkebunan, seperti kelapa sawit dan karet. Fluktuasi harga global akibat perang dagang membuat para petani dan pelaku usaha menghadapi tantangan besar.
Selain itu, ketergantungan Kalimantan Barat terhadap impor dari Tiongkok juga semakin meningkat. Banyak barang kebutuhan pokok dan alat produksi diambil dari Tiongkok, sehingga kenaikan tarif atau ketidakstabilan perdagangan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat setempat.
Strategi Indonesia dalam Menghadapi Perang Dagang

Untuk menghadapi dinamika ini, Indonesia perlu memperkuat diversifikasi pasar ekspor, meningkatkan efisiensi logistik, dan memperbaiki iklim investasi. Syafruddin menyarankan agar Indonesia tidak terjebak dalam kutub AS atau Tiongkok. “Langkah konkret dan visi strategis menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika global, tetapi berperan aktif membentuk arah baru perdagangan internasional,” ujarnya.
Di sisi lain, kerja sama regional melalui ASEAN sangat penting. Indonesia harus aktif dalam forum tersebut untuk memperkuat daya tawar saat menyusun perjanjian dagang.
FAQ

Apa dampak perang dagang AS-Tiongkok terhadap Indonesia?
Perang dagang AS-Tiongkok menyebabkan ketidakpastian dalam perdagangan global, yang berdampak pada kinerja ekspor dan impor Indonesia. Neraca dagang Indonesia mengalami defisit, namun surplus dengan AS meningkat.
Bagaimana Kalimantan Barat terkena dampak perang dagang?
Kalimantan Barat terdampak langsung karena ketergantungan pada impor dari Tiongkok dan fluktuasi harga global yang memengaruhi sektor pertanian dan perkebunan.
Apa strategi Indonesia dalam menghadapi perang dagang?
Indonesia perlu memperkuat diversifikasi pasar ekspor, meningkatkan efisiensi logistik, dan memperbaiki iklim investasi. Selain itu, kerja sama regional melalui ASEAN sangat penting.
Bagaimana rupiah terpengaruh oleh penurunan tensi perang dagang?
Nilai tukar rupiah mengalami penguatan sebesar 1,23% dalam dua pekan pertama tahun 2025, menunjukkan optimisme investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Apa peran ASEAN dalam menghadapi konflik dagang global?
ASEAN berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan. Kerja sama regional dapat memperkuat daya tawar negara-negara anggota dalam menghadapi ketidakpastian global.
Kesimpulan
Perang dagang AS-Tiongkok yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak luas pada perekonomian global, termasuk Indonesia dan Kalimantan Barat. Meski ada tantangan, situasi ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global dan meningkatkan daya saing ekspor.
Dengan strategi yang tepat, kerja sama regional, dan kebijakan yang progresif, Indonesia dapat menghadapi dinamika ini dengan tangguh. Di tengah ketidakpastian global, keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan rakyat tetap menjadi prioritas utama.






